Bolehkah berkurban atas nama orang tua dan saudara yang sudah wafat?

idhul adha1. Bolehkah berqurban atas nama orang tua dan saudara2 nya yang sudah wafat?
Jazakallah khair wa barokallahu fiik

Jawaban
Bismillah.
Berikut keterangan syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh tentang kurban:

ﻭاﻷﺻﻞ ﻓﻲ اﻷﺿﺤﻴﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﻓﻲ ﺣﻖ اﻷﺣﻴﺎء ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻳﻀﺤﻮﻥ ﻋﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻬﻢ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﻈﻨﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﻌﺎﻣﺔ ﻣﻦ اﺧﺘﺼﺎﺹ اﻷﺿﺤﻴﺔ ﺑﺎﻷﻣﻮاﺕ ﻓﻼ ﺃﺻﻞ ﻟﻪ.
ﻭاﻷﺿﺤﻴﺔ ﻋﻦ اﻷﻣﻮاﺕ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ:
اﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﻳﻀﺤﻲ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﻷﺣﻴﺎء ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻀﺤﻲ اﻟﺮﺟﻞ ﻋﻨﻪ ﻭﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻪ ﻭﻳﻨﻮﻱ ﺑﻬﻢ اﻷﺣﻴﺎء ﻭاﻷﻣﻮاﺕ، ﻭﺃﺻﻞ ﻫﺬا ﺗﻀﺤﻴﺔ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻨﻪ ﻭﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻪ ﻭﻓﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ.  اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﻳﻀﺤﻲ ﻋﻦ اﻷﻣﻮاﺕ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﻭﺻﺎﻳﺎﻫﻢ ﺗﻨﻔﻴﺬا ﻟﻬﺎ ﻭﺃﺻﻞ ﻫﺬا ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻓﻤﻦ ﺑﺪﻟﻪ ﺑﻌﺪﻣﺎ ﺳﻤﻌﻪ ﻓﺈﻧﻤﺂ ﺇﺛﻤﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺒﺪﻟﻮﻧﻪ ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﺳﻤﻴﻊ ﻋﻠﻴﻢ} .  اﻟﺜﺎﻟﺚ: ﺃﻥ ﻳﻀﺤﻲ ﻋﻦ اﻷﻣﻮاﺕ ﺗﺒﺮﻋﺎ ﻣﺴﺘﻘﻠﻴﻦ ﻋﻦ اﻷﺣﻴﺎء ﻓﻬﺬﻩ ﺟﺎﺋﺰﺓ، ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﻓﻘﻬﺎء اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺛﻮاﺑﻬﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻴﺖ ﻭﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﻋﻨﻪ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﺗﺨﺼﻴﺺ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺎﻷﺿﺤﻴﺔ ﻣﻦ اﻟﺴﻨﺔ؛ ﻷﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻀﺢ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﻣﻮاﺗﻪ ﺑﺨﺼﻮﺻﻪ، ﻓﻠﻢ ﻳﻀﺢ ﻋﻦ ﻋﻤﻪ ﺣﻤﺰﺓ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺃﻋﺰ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻋﻨﺪﻩ، ﻭﻻ ﻋﻦ ﺃﻭﻻﺩﻩ اﻟﺬﻳﻦ ﻣﺎﺗﻮا ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻪ، ﻭﻫﻢ ﺛﻼﺙ ﺑﻨﺎﺕ ﻣﺘﺰﻭﺟﺎﺕ، ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺃﺑﻨﺎء ﺻﻐﺎﺭ، ﻭﻻ ﻋﻦ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﻧﺴﺎﺋﻪ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﺃﻥ ﺃﺣﺪا ﻣﻨﻬﻢ ﺿﺤﻰ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﻣﻮاﺗﻪ.  ﻭﻧﺮﻯ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ اﻟﺨﻄﺄ ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﻀﺤﻮﻥ ﻋﻦ اﻟﻤﻴﺖ ﺃﻭﻝ ﺳﻨﺔ ﻳﻤﻮﺕ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻳﺴﻤﻮﻧﻬﺎ (ﺃﺿﺤﻴﺔ اﻟﺤﻔﺮﺓ) ﻭﻳﻌﺘﻘﺪﻭﻥ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺸﺮﻙ ﻣﻌﻪ ﻓﻲ ﺛﻮاﺑﻬﺎ ﺃﺣﺪ، ﺃﻭ ﻳﻀﺤﻮﻥ ﻋﻦ ﺃﻣﻮاﺗﻬﻢ ﺗﺒﺮﻋﺎ، ﺃﻭ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﻭﺻﺎﻳﺎﻫﻢ ﻭﻻ ﻳﻀﺤﻮﻥ ﻋﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻤﻮا ﺃﻥ اﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫا ﺿﺤﻰ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻪ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﺷﻤﻞ ﺃﻫﻠﻪ اﻷﺣﻴﺎء ﻭاﻷﻣﻮاﺕ ﻟﻤﺎ ﻋﺪﻟﻮا ﻋﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﻋﻤﻠﻬﻢ ﺫﻟﻚ

“Hukum asal kurban disyariatkan bagi yg masih hidup sebagaimana rosululloh  ﷺ  dan para sahabatnya berkurban utk diri mereka dan keluarga mereka, adapun apa yg disangka oleh sebagian org umum dgn mengkhususkan kurban bagi yg sdh meninggal maka tdk ada asal/dalil nya.

Dan berkurban bagi org yg sdh meninggal ada 3 bagian:
1. Berkurban utk mereka namun sebagai pengiring dari kurbannya org yg masih hidup, seperti org yg berkurban utk dirinya dan keluarganya, dan dia meniatkan dgn keluarganya adalah keluarga yg msh hidup maupun yg sdh meninggal. Dan ini adalah asal dari kurbannya nabi ﷺ utk dirinya dan diri keluarganya, dimana di dalamnya ada yg sdh meninggal sblmnya.
2. Berkurban utk org yg sdh meninggal berdasarkan wasiat dari mendiang sebagai wujud dari pelaksanaan wasiat mereka, dan dalil hal ini adalah firman Alloh ta’ala:
“Barangsiapa yg menggantinya setelah dia mendengarnya maka dosanya ialah bagi org² yg menggantinya. Sesungguhnya Alloh maha mendengar lagi maha mengetahui”.
3. Berkurban utk org yg sdh meninggal yg terpisah dari kurbannya org yg masih hidup, maka yg demikian adalah boleh, dan para fuqoha hanabilah telah menyebutkan dalilnya bahwa pahalanya akan sampai kpd mendiang dan mendiang akan mendapatkan manfaatnya sebagai qias dgn sedekah atas nama mereka, akan tetapi kami menilai bahwa mengkhususkan kurban bagi yg sdh meninggal BUKAN termasuk dari amalan sunnah; karena nabi ﷺ tdk pernah berkurban secara khusus bagi salah satu keluarganya yg sdh wafat, sehingga beliau tdk pernah berkurban utk pamannya, Ja’far, padahal beliau adalah kerabat yg paling dimuliakannya, dan tdk pernah juga berkurban bagi putra putrinya yg telah lbh dulu wafat di masa hidupnya beliau ﷺ,  yg kesemuanya ada 3 putri yg sdh menikah dan 3 putra yg msh kecil, dan tdk pernah juga berkurban utk istrinya, Khodijah, padahal beliau adalah istri terkasihnya, dan tdk pernah juga teriwayatkan dari para sahabatnya di zaman beliau bahwa salah satu dari mereka berkurban utk salah satu dari keluarganya yg sdh wafat.
Dan kami nilai juga termasuk dari kesalahan yg dilakukan oleh sebagian org mereka berkurban utk org yg sdh meninggal pada awal tahun kematiannya yg mereka namakan kurban tsb dgn: kurban makam, dan mrk meyakini tdk boleh kurban tsb disertakan pahalanya dgn seseorang pun, atau mrk berkurban utk mendiang² mereka secara tersendiri, atau krn adanya wasiat dari mrk sehingga tdk boleh berkurban utk diri mereka dan keluarga mrk, dan jika sekiranya mrk tahu bahwa seseorang apabila berkurban dari hartanya utk dirinya dan keluarganya maka SUDAH TERMASUK KELUARGANYA YG MSH HIDUP DAN YG SDH WAFAT niscaya mereka akan berpaling dari perbuatan mrk itu.”
Wallohu a’lam.
[Lihat, ahkamul udhhiyyah, syaikh Ibnu Utsaimin.]

Al Ustadz Muhammad Sholehudin Hafizhahullah

This entry was posted in Tanya Jawab and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s