Ilmu itu Agama ya Akhi,lihat dari mana kita Ambil Agama Kita

wsi-1aAs Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Menuturkan :” Pembicaraan tentang Jarh wat Ta’dil tidaklah terbatas sekedar didalam ilmu periwayatan hadits. Bahkan Ahlus Sunnah mereka membicarakan Jarh wat Ta’dil ditujukan kepada siapa saja yang menaruh perhatian, yang demikian dalam rangka untuk membela Ilmu dan Agama.

Oleh karenanya terdapat atsar dari Ibnu Sirin dan juga selain beliau dari kalangan Salaf. Beliau menuturkan :”Sesungguhnya Ilmu itu adalah Agama, maka hendaknya kalian Meneliti dari siapakah kalian Mengambil ajaran Agama kalian”.

Demikian juga terdapat atsar dari sebagian salaf: “Bahwa mereka apabila hendak mengambil suatu hadits dari seseorang, maka mereka akan mencari informasi tentang orang tersebut. Bahkan orang-orang menyangka bahwa dia akan menikahkannya dengan seseorang”.

Demikian ini telah jelas bagi kalian, bahwa Jarh wat Ta’dil selalu terbuka sampai datangnya hari kiamat, bahkan sampai Ilmu itu sirna. Dikarenakan sebagian dari bentuk ilmu harus disertai dengan Tatsabbut (memperjelas asal muasalnya).

Sesungguhnya orang yang Tidak diketahui ‘Adalah nya (status keilmuan), maka tidak diterima haditsnya. Hal ini sebagaimana yang tersirat di dalam Ayat Allah Ta’ala : “Apabila datang kepada kalian seorang yang Fasiq membawa suatu berita, maka perjelaslah terlebih dahulu”.
Ayat ini memberikan faidah yang tersurat, bahwa berita yang datang dari seorang fasiq tidaklah diterima. Adapun makna yang tersirat, bahwa berita yang datang dari orang yang belum diketahui Status keilmuannya (عدالته)، tidak diterima. Dikarenakan makna dari ayat ini, bahwa kita diharuskan menerima berita dari seorang yang ‘Adil dan jelas diketahui status keilmuannya, sedangkan orang yang tidak diketahui status keilmuannya maka tidak diterima berita darinya. Oleh karenanya merupakan keharusan untuk kita tidak menerima berita kecuali dari seorang yang jelas status keilmuannya dan dikenal serta dipersaksikan oleh Ahlul Ilmi.

Berita yang dimaksud berlaku secara umum. Termasuk berita tentang ilmu periwayatan hadits, permasalahan ilmu dan agama, ataupun dari jenis berita yang semisalnya.

Maka tidaklah diterima kecuali berita yang datang dari seorang yang ‘Adil dan dipersaksikan kebaikan status keilmuannya (العدالة).
Dari semua keterangan ini, diketahui bahwa Ilmu Jarh wat Ta’dil tidaklah terbatas dalam kategori ilmu periwayatan hadits, justru dalam segala jenis berita. Yang saya maksudkan adalah, kategori ilmu periwayatan hadits, ilmu hadits, dan penukilan hadits.

Jika demikian, kita sedang berbicara tentang periwayatan hadits yang terdapat padanya Jarh dan Ta’dil. Kita juga membicarakan tentang setiap orang yang menaruh perhatian dalam rangka menyebarkan ilmu, sampai jelas status keilmuannya, dan diterima beritanya. Adapun yang tidak diketahui status keilmuannya, maka kita mencukupkan diri dan tidak diterima beritanya.

Download Audio di Sini
-selesai-

Di terjemahkan oleh Al Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahulloh

This entry was posted in Fatwa, Manhaj, Nasehat and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s